Jakarta’s Flood “Who is to blame?”
Membaca berita banjir di Jakarta, menyedihkan..!! Bahkan di daerah rumah yang tidak pernah banjir kali ini kena banjir. Bayangkan Condet, yang dulunya cagar alam Jakarta kena banjir…
Makanya akhir-akhir ini sering telepon ke rumah, cuma ngecek aja….kadang-kadang Hendra (adik yang paling kecil sering mengangkat telepon)
"Dro…semua baik-baik aja kan? Jangan sampai hanyut ke kali ya….hehhehe"
"Hanyut?…Pohon kali hanyut…….."
Sedih ya, Jakarta kena banjir besar seperti ini.
Surprise?
Oh no…..
Membaca perkembangan berita tentang Pemerintah DKI yang hanya sibuk dengan busway, memangkas jalur hijau untuk pelebaran jalan yang tidak ada juntrungannya dan para pejabatnya yang hanya ribut melulu menuntut kenaikan tunjangan ini itu tanpa hasil kerja yang nyata….inilah akibatnya.
Habis menyalahkan siapa?
Rakyat kecil yang buang sampah di pinggir kali? Lah bagaimana mau buang sampah ditempat yang layak kalau Tempat Pembuangan Sampah yang seharusnya tanggung jawab Pemda DKI saja masih tidak jelas.
Belum lagi kebijaksanaan yang sangat tidak bijaksana mengenai pembangunan perumahan atau pertokoan di daerah yang seharusnya menjadi daerah resapan air, penebangan jalur hijau dengan alasan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas yang masalahnya bukan berkurang malah menjadi-jadi, atau pura-pura bisu dan tuli dalam menghadapi musim hujan yang mungkin sekarang namanya berubah menjadi musim banjir.
Heran ya? Kok saya yang bodoh dan tidak punya jabatan di pemerintahan DKI bisa berpikir seperti ini?
Terus dimana dong otak para pejabatnya? Kan mereka sudah digaji plus korupsi tapi kok rasa prihatin kepada rakyat kecil yang lagi-lagi jadi sapi perahan dan korban atas segala bencana demi bencana, tidak ada?
Kesan saya terhadap Jakarta sekarang adalah kota semerawut dan tidak mempunyai konsep tata kota yang jelas. Pemerintah DKI hanya melakukan tambal sulam atas masalah-masalah yang seharusnya harus dituntaskan pemecahannya dan mengambil tindakan yang rasional.
Daripada ribut-ribut mengenai kenaikan tunjangan kenapa anggota DPRD tidak ribut menyambangi Gubernur untuk menyewa insinyur, ahli tata kota, pemerhati lingkungan yang masih punya nalar untuk menyelamatkan Jakarta. Daripada menerima uang haram dari para developer, mengapa tidak memakai uang kas untuk mengeruk sungai membangun bantaran sungai yang bersahat dengan alam? Atau menggalakan kebersihan saluran air dipenjuru kota?
Jakarta adalah ibu kota negara. Kalau ibu kota negara sudah Knock Out seperti ini, mau dikemanakan kredibilitas negara kita? Mengurus kota kecil seperti Jakarta saja sudah tidak mampu. Apalagi yang akan dipandang dari negara RI yang terkenal dengan mental KORUPSI para pejabat negaranya ini?
Kasihan dengan rakyat kecil. Rumah dan barang yang mereka kumpulkan bertahun-tahun hilang dalam beberapa jam. Kenyamanan hidup mereka terganggu, mereka tidak bisa pergi bekerja, pelajar seharusnya duduk di kelas menambah pengetahuan harus menggigil kedinginan di atas atap rumah berharap bantuan yang tiada kunjung datang.
Yang paling parah: bantuan untuk emergency situation seperti makan/minum, selimut, obat, pakaian pun tidak didapat. Para pejabat seolah-olah hilang ditelan bumi. Tidak tahu sembunyi dimana…Di hotel? Di villa private mereka? Atau ke luar negri untuk menenangkan pikiran dari rasa bersalah?
Saya rasa Jakarta tidak akan terselamatkan kalau terus dipimpin orang-orang yang tidak berpendidikan. Dan alam tidak lagi akan bersahabat jika terus-terus di aniaya.
Tuhan sudah mengingatkan jagalah hubunganmu denganKu, dengan sesama manusia dan sesama alam.
Mental korupsi dan perusakan terhadap tanah, air dan udara adalah tindakan memusuhi Tuhan.
Mengambil harta orang banyak, membuat banyak orang menderita, dan merusak alam dengan mengambil keputusan yang salah, apakah dosa yang kecil?
Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Adil.